Yui bukanlah anak yang soft spoken seperti halnya sang adik Mui, terkadang Yui meninggikan nada bicaranya dengan orang lain padahal ia sedang tidak marah sama sekali dan itu yang membuat orang orang memandangnya sebagai anak yang galak, tak sedikit dari mereka menyebutnya ‘kucing garong’.


Seperti biasanya, kini keluarga kecil itu sedang berkumpul di ruang TV. Mui yang menempel tertidur dipaha Giyuu sedangkan Yui sibuk dengan game di ponselnya membuat ia sesekali mengeluarkan decakan kecil saat karaternya mati.

“Ah! apaansih kalah mulu” Yui berucap dengan dahinya yang semakin mengerut. Giyuu menoleh, tangannya terulur untuk mengelus surai Yui.

“Jangan pegang pegang kepala” katanya. Ia seraya menepis kecil tangan Giyuu, yang ditanggapi oleh kekehan. Yui memang tidak suka physical touch dia lebih suka diperhatikan dari bagaimana orang itu berbicara kepadanya, istilahnya— boy who love words of affirmation.

Sanemi datang dengan kopi ditangannya, ia mengambil duduk didekat Yui hingga kini anak itu berada ditengah orang tuanya.

“Gimana sekolahnya, kak?”

Yui menjawab, “Ya kayak biasa aja”

“Kalo diajak ngobrol simpen hp nya…” Giyuu menimpali, menyadari bagaimana raut wajah itu terlihat datar dan lurus menatap layar handphone nya.

“Aku kan lagi maen” Yui menjawab, sekali lagi tanpa menoleh kearah Giyuu. “Ayah bisa tanya adek aja”